RAHASIA SEPASANG ALAS KAKI

Walaupun letaknya dibawah dan diinjak-injak, tapi jangan keliru, pamornya tak kalah dengan berlian sekalipun.
Rahasia Sepasang Alas Kaki Sepatu Sandal

Kalau kita sedang jalan ke mall (windows shopping) dan melihat deretan sepatu keren plus cantuk rasanya ingin banget mencoba kan?? kira-kira pas apa tidak ya dikaki? atau siapa tahu pas kita coba ternyata model dan bentuknya oke banget di kaki kita, duh tambah ingin memiliki dech.
Ternyata, sejarah sepasang sepatu adalah sejarah peradaban manusia, sepatu tidak cuma sekedar alas kaki, tapi sepatu juga menunjukan status sosial, budaya, dan menunjukan dari mana asal orang tersebut.

Disalah satu sudut pusat perbelanjaan di Paragon, Singapura pernah diadakan pameran sepatu oleh perusahaan sepatu yang hampir berusia 80 tahun Salvatore Ferragamo yang berpusat di Florence, Italia. Tujuan pameran ini adalah untuk memberi tahu para pengunjung bagaimana sejarah perusahaan ini dan dari mana inspirasinya hingga terwujud sebuah sepatu yang harganya selangit.
Semua sepatu yang dipamerkan diletakkan dalam kotak-kotak kaca dan dijaga petugas keamanan bak di museum. Nah, menurut informasi dari Ferragamo, keberhasilan mereka terkait dengan industri film Hollywood yang bangkit pada awal tahun 1920-an, Salvatore Ferragamo (1898-1960) segera mendekati pasar yang membuat namanya dikenal. Sepatu Ferragamo dipakai di beberapa film, seperti The ten Commandments (1923), Let's Make Love (1960), dan pada era setelah masa sang pendiri, adalah dalam film Evita (1996).
Sepatu-sepatu itu dipakai oleh artis, seperti Marilyn Monroe, Greta Garbo, Audrey Hepburn, sampai Drew Barrymore  dan bintang asia Zhang Ziyi. Perempuan paling terkenal di Argentina pada tahun 1947-1952, Evita Peron, juga tercatat sebagai penggemar sepatu Salvatore Ferragamo. Bahkan ketika Madonna memerankan Evita Peron dalam film Evita (1996), juga minta dibuatkan sepatu yang serupa.
Nama Ferragamo semakin berkibar ketika pada tahun 1947 mendapatkan penghargaan Neiman Marcus Award untuk koleksi invisible sandals. Bagian atas sandal ini dibuat dari benang-benang nilon sehingga pemakainya seolah-olah tidak memakai sandal.
Ketika dilakukan lelang untuk mengumpulkan dana bagi Elton John AIDS Foundation tahun 2001 lalu, sepasang sandal yang dibuat Ferragamo, khusus untuk acara ini, laku seharga 13.000 pounds atau hampir Rp. 170 juta.
Terjualnya sandal diarena lelang itu juga menegaskan identitas lain yang menempel di sepatu. Dia tak lagi sekedar alas kaki, tetapi menjadi benda seni yang pantas lelang.

SEJARAH SANG ALAS KAKI

Ngomong-ngomong mengenai sepatu memang tidak ada habisnya. Sejarah sepatu berkembang berbarengan dengan sejarah peradaban manusia. Luciana Boccardi dalam buku Party Shoes (1993) menulis, perempuan sudah memakai sepatu dari kulit yang lembut sejak seribu tahun sebelum masehi. Nefertiti dan Cleopatra sudah memakai sandal yang diukir dan diberi perhiasan.
Banyak cerita dan kebiasaan yang juga berkaitan dengan sepatu. Sebut saja cerita Kucing Bersepatu Lars, dan Cinderella yang bisa menikah dengan pangeran gara-gara sepatu kacanya. Di China, saat Dinasti Song (960 M) berkuasa, ada kebiasaan untuk mengikat kaki bayi perempuan dengan sepatu khusus sehingga kakinya seperti kuncup bunga lotus. Sementara umat Kristiani di Amerika dan Eropa sampai sekarang memiliki kebiasaan untuk meletakkan sepatu di depan pintu atau di dekat perapian pada malam Natal.
Perkembangan selanjutnya, dari sepatu akan ketahuan siapa pemakainya. Di dalam sepatu juga terkandung simbol dan status. Jika mereka bisa cuek dengan pakaian, belum tentu mereka bisa cuek dengan alas kaki. Sepatu harus enak dipakai dan mempunyai desain yang bagus. Sepatu yang demikian tentu mahal. Artinya, hanya orang yang punya uang yang bisa memakainya.
Dikonstruksikan menjadi barang yang menunjukkan status, membuat sepatu menjadi barang mode yang memiliki ribuan desain. Lahirlah desainer-desainer sepatu dan butik-butik khusus sepatu dengan label baru, entah itu di Amerika, Italia, Perancis, dan Inggris. Berbagai desain sepatu diciptakan berkaitan dengan apa yang terjadi di masyarakat.
Boccardi mengatakan, perang (1940-1945) telah menyebabkan sepatu tidak hanya terbuat dari kulit, tetapi juga dari kain sutra, kertas kaca, tali rafia, tali rami, dan sebagainya. Pada saat perang, impor kulit susah dilakukan.
Masyarakat akhirnya mempunyai banyak pilihan akan sepatu. Tidak heran jika ada orang yang mengaku mempunyai belasan, puluhan, ratusan, bahkan ribuan pasang sepatu. Lihat saja Imelda Marcos, memiliki tidak kurang dari 3.000 pasang sepatu. Jika setiap hari dia memakai satu pasang sepatu, dia butuh delapan tahun untuk memakai sepatu yang sama lagi.
Coba tengok dan perhatikan alas kaki kita! Itu adalah salah satu peradaban besar umat manusia, apa jadinya kalau tidak ada alas kaki, meski kita nenteng HP super canggih tapi kaki nyeker di jalanan aspal dan cuacanya terik banget di tengah hari bolong, imagine!

0 Response to "RAHASIA SEPASANG ALAS KAKI"

Posting Komentar